Selasa, 29 Maret 2011

Malapetaka Negeri Saba Modern


Maka tidak lama kemudian (datanglah burung hud-hud), lalu ia berkata: "Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Alloh dan syaithon telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Alloh), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Alloh yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Alloh, tiada Tuhan Yang disembah kecuali Dia, Tuhan Yang mempunyai 'Arsy yang besar." [An Naml: 22-26]

Itulah sekilas gambaran tentang negeri Saba. Saba adalah nama kerajaan di zaman dahulu dengan ibukotanya Ma'rib yang letaknya dekat kota San'a, ibukota Yaman sekarang. Negeri yang dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Balqis. Pada saat yang bersamaan, terdapat pula kerajaan Nabi Sulaiman alaihis salaam di Palestina. Dari dakwah beliaulah, ratu Balqis akhirnya memeluk Islam dan negeri Saba terhindar dari malapetaka yang sudah hampir di ujung mata.

Negeri Saba, negeri yang dahulu terkenal sebagai negeri penyembah Matahari. Negeri yang dikenang dalam sejarah sebagai bangsa yang makmur karena teknologi canggihnya yang mampu mengolah isi perut bumi menjadi sumber penghidupan. Namun negeri ini dinyatakan kafir oleh Nabi Sulaiman karena menjadikan matahari sebagai sesembahan selain Alloh.

Saat Nabi Sulaiman mendakwahi ratu Balqis dengan segenap karunia Tuhannya, ratu Balqis akhirnya tunduk pada kerajaan Sulaiman. Negeri Saba pun terhindarkan dari peperangan sengit dan menjadi negeri yang amat mempesona.

Namun saat Nabi Sulaiman wafat, penerus negeri ini kembali menjadi kafir. Sehingga Alloh pun menepati janjiNya untuk meluluhlantakkan negeri Saba yang subur ini. Hal ini termaktub dalam firmanNya,

Maka tatkala Kami telah menetapkan kematian Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia telah tersungkur, tahulah jin itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak akan tetap dalam siksa yang menghinakan. Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): "Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepadaNya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun." Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena kekafiran mereka. Dan Kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir. [Saba’: 14-17]

Kini, mungkin negeri Saba sudah musnah dalam timbunan padang pasir. Hanya puing-puing bangunan tinggi yang tersisa. Namun peradaban kaum Saba dalam menyembah Matahari masih hidup hingga saat ini. Negeri itulah yang kusebut sebagai Negeri Saba Modern.

Negeri Saba Modern [NSM] kini dikenal dunia sebagai kiblatnya ilmu pengetahuan modern. Dari negeri ini, banyak pelajar dan pekerja Indonesia yang berjuang mendapatkan gelar dan juga keahlian tertentu. Beragam bentuk bangunan dan manufaktur pun melibatkan teknologi robotik. Sedikitnya manusia yang dilibatkan di dalamnya adalah untuk meminimalisir kecelakaan kerja. Negeri ini dikenal pula dengan sistem kerjanya yang disiplin, rapi dan ulet, berbanding terbalik dengan negeri yang dipenuhi beragam suku bangsa yang menjunjung tinggi toleransi telat, kumuh dan mbulet.

Meski dikenal sebagai jalur gempa tektonik, NSM mampu menciptakan teknologi rumah anti gempa dari bahan kertas dan kayu. Negeri ini pun terkenal dengan hasil lautnya yang melimpah ruah karena adanya pertemuan arus panas dan arus dingin. Dengan bunga Sakura di musim semi, keindahan negeri ini kian tersohor hingga ke seluruh dunia.

Itulah negeri penyembah Matahari. Negeri yang dahulu dikenal sejarah sebagai bangsa paling maju dan super modern. Kini negeri itu sedang menghadapi krisis karena tsunami yang Alloh timpakan kepada penyembah Matahari, sebagaimana banjir besar yang menimpa negeri Saba yang kembali kafir kepada Alloh.

Adakah yang bisa mengambil pelajaran?

Di saat penduduk NSM mampu mengatasi gempa tektonik dengan rumah “kapas”nya, Alloh memilih adzab lain yang tiada mereka sangka-sangka sebelumnya, tsunami yang menyapu rumah dan seluruh portal kehidupan laksana buih di lautan. Dengan adzab ini, Alloh hendak menunjukkan kekuatan siapakah yang lebih hebat, Matahari ataukah Dia yang berada di atas Arsy?

Wahai penduduk negeri NSM, bertaubatlah kepada kepada Alloh, niscaya Dia akan mengampunimu dan menurunkan barokahnya dari langit dan mengeluarkan isi perut bumi yang bermanfaat. Namun bila kalian berpaling, maka Alloh akan membuat hidup kalian menderita dengan pohon-pohon berduri yang pahit..

Sesungguhnya setiap negeri yang dimusnahkan oleh Alloh disebabkan oleh kesyirikan yang dilakukan oleh penduduk tersebut. Lihatlah di zaman Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa salaam tidak pernah ada bencana alam, seperti banjir, tsunami, tanah longsor hingga gempa. Gempa pertama kali terjadi di zaman kekhalifahan Umar bin Khaththab rodhiyallohu ‘anhu. Saat terjadi gempa kecil tersebut beliau langsung naik di atas mimbar seraya berkata, “Wahai manusia, begitu cepatkah kalian berubah? sehingga Alloh menurunkan adzabNya begitu cepat?”

Itulah gambaran tentang gempa kecil yang dianggap sebagai bentuk kedzaliman yang terjadi di zaman khulafaur rasyidin. Tak bisa dibayangkan bagaimana bila gempa itu melanda sebuah negeri lalu memusnahkannya dalam sekejap, tentu ada dosa besar yang telah dilakukan oleh penduduk negeri di atasnya.

Ketahuilah bahwa setiap kesyirikan yang didominasi oleh penduduk suatu negeri melahirkan bencana besar berdasarkan sunnatulloh. Oleh karena itu takutlah kepada Alloh orang-orang yang menyembah berhala dan kuburan para wali terhadap bencana banjir besar yang dahulu meluluhlantakkan kaum Nabi Nuh alaihis salaam saat mereka menyembah patung orang-orang sholih di antara mereka.

Takutlah pula orang-orang yang mengangkat diri mereka sebagai Tuhan, orang yang senang disembah dan dipuji karena kedudukannya pada adzab yang ditimpakan kepada Fir’aun, dimana Alloh menenggelamkannya di Laut Merah dan menjadikannya contoh terburuk hingga saat ini dengan jasadnya yang tetap dikenang masa.

Demikian pula orang-orang yang menuhankan ilmu dan teknologi serta menjadikan kesombongan sebagai Illah, hendaklah mereka takut pada adzab yang mengubur peradaban kaum Tsamud dan ‘Aad dalam padang pasir disertai petir yang memusnahkan penghuni rumah yang dipahat dalam batu.

Hendaklah para penyembah kerbau keramat yang memakan kotoran dan mengoleskannya pada tubuh mereka dengan mengharap barokah mengambil pelajaran dari Bani Israil yang dilaknat oleh Alloh karena penyembahannya pada sapi yang mereka buat dari emas. Nabi Musa alaihis salaam pun murka dan memerintahkan mereka bertaubat dengan cara membunuh diri dan saling bunuh di antara mereka.

Lihatlah bagaimana akibat dari kesyirikan yang melanda sebuah negeri hingga hanya tersisa kisahnya dalam Al Qur’an dan sejarah. Oleh karena itu apabila seseorang mengharapkan kemakmuran suatu negeri, maka hendaklah ia jauhkan dirinya dari kesyirikan. Orang-orang yang berwenang pun seyogyanya memperhatikan hal tersebut. Tidak hanya memenjarakan koruptor sekelas Gayus Tambunan, namun hendaklah mereka juga memenjarakan pelaku-pelaku kesyirikan yang menjadi racun negeri ini.

Fasilitas serta sarana yang mendekatkan pada kesyirikan hendaklah disingkirkan sejauh mungkin. Kuburan keramat, pohon besar, gua suci, sumur tua, candi altar dan tempat-tempat persemedian yang mengundang kesyirikan hendaklah diratakan dengan tanah. Demikian pula pada tukang-tukang sihir yang berkedok kyai dan dukun berjilbab yang menggunakan mantera-mantera syirik dan tidak disunnahkan oleh Nabi, hendaklah mereka dibunuh sebagaimana Nabi dahulu membunuh para tukang sihir Yahudi dan Majusi.

NSM telah merasakan dampak dari kesyirikan yang dilakukannya karena sebab Dewa Matahari. Lalu apakah kita juga akan menunggu adzab pedih yang sudah pasti dijanjikan kepada pelaku kesyirikan karena menyembah Dewi Sri, Kyai Slamet, Ratu Pantai Selatan, pemuja sesat Wali Songo, Sai Baba, Ponari dan tokoh-tokoh sesat yang menyesatkan umat ini?

Hanya kepada Allohlah saya berlindung dari kesyirikan-kesyirikan tersebut dan kepada Dia pula saya akan mengadukan hal ini. Amiin.

Sumber: Note FB akh Evans Jimmy Margana

1 komentar:

Akhwat's Note mengatakan...

Nice

Poskan Komentar

Komentar di bawah sini ya...